Selasa, 10 Januari 2017

Contoh Publikasi Ilmiah berbentuk Diktat

 



LEMBAGA PENDIDIKAN MA’ARIF NU KABUPATEN BATANG







DIKTAT BAHASA INDONESIA
KELAS 7
Semester II


Oleh
Sobirin,S.E.


MTs. DAARUL ISHLAH BANDAR
Jalan Puncak Km.4 Tombo, Kec. Bandar, Kab. Batang
2017

Kata Pengantar



Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-Nya, Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW.

Diktat Bahasa Indonesia kelas 7 semester II ini dimaksudkan untuk mempermudah proses pembelajaran Bahasa Indonesia kelas 7 di MTs. Daarul Ishlah Bandar. Dengan diktat ini kami berharap siswa lebih mudah memahami materi pembelajaran sehingga pada akhirnya mereka akan dapat mencapai ketuntasan belajarnya.

Kami berharap kepada para peserta didik untuk dapat manfaatkanlah diktat ini sebaik-baiknya. Namun, kami menyadari bahwa diktat ini masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik dari berbagai pihak sangat kami harapkan.







Penulis






DAFTAR ISI

Contents
















STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR         BAHASA INDONESIA KELAS 7 SEMESTER II


Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Indikator Pencapaian Kompetensi
Mendengarkan   
9. Memahami  wacana lisan dalam  kegiatan wawancara

9.1 Menyimpul­kan pikiran, pendapat, dan gagasan seorang to­koh/narasum-ber yang di­sam­paikan da­lam wa­wan­cara
·    Mampu menyimpulkan pikiran, pen­dapat, dan gagasan nara­sumber
·    Mampu menuliskan informasi yang diperoleh dari wawancara yang didengarkan ke dalam bebe­rapa kalimat singkat
9.2 Menuliskan dengan sing­kat hal-hal pen­ting yang dikemukakan narasumber dalam wa­wan­cara
·    Mampu mendata hal-hal penting dari narasumber yang diwawan­carai
·    Mampu menuliskan hal-hal  pen­ting yang dikemukakan narasumber dari suatu wawancara
Berbicara
10. Mengungkapkan pikiran, perasaan, informasi, dan pengalaman melalui kegiatan menanggapi cerita dan telepon
10.1 Menceritakan tokoh idola de­ngan mengemu-kakan ide­n­titas tokoh, keunggulan,  dan alasan mengidolakannya dengan pilihan kata yang se­suai
·    Mampu mengemukakan identitas tokoh
·    Mampu menentukan keunggulan tokoh dengan argumen yang tepat
·    Mampu menceritakan tokoh dengan pedoman kelengkapan identitas tokoh
10.2  Bertelepon dengan kalimat yang efektif dan bahasa yang santun
·    Mampu menulis materi bertelepon sesui konteks
·    Mampu bertelepon dengan ber­bagai mitra bicara sesuai dengan konteks
Membaca  
11. Memahami wacana tulis melalui kegiatan membaca intensif dan membaca memindai
11.1 Mengung-kap­kan hal-hal yang dapat diteladani dari Buku  biografi yang dibaca secara intensif
·    Mampu menyarikan riwayat hidup tokoh
·    Mampu mendata keistime­waan tokoh
·    Mampu mendata hal-hal yang dapat diteladani
11.2 Menemukan gagasan utama dalam teks yang dibaca

·    Mampu menunjukkan letak kali­mat utama dalam suatu pa­ragraf pada teks bacaan
·    Mampu mengungkapkan gagasan utama/ide pokok dalam setiap paragraf pada suatu teks bacaan

11. 3 Menemukan informasi seca­ra cepat dari tabel/diagram yang dibaca
·    Mampu mengenali bagian-bagian tabel/diagram
·    Mampu menemukan makna/isi ta­bel/diagram
·    Mampu mengubah tabel/diagram dalam bentuk uraian
Menulis
12. Mengungkapkan berbagai informasi dalam bentuk narasi dan pesan singkat

12.1 Mengubah  teks wawan­cara menjadi narasi dengan memperhatikan cara penulisan kalimat langsung dan tak langsung
·    Mampu mengubah kalimat langsung dalam wawancara menjadi kalimat tidak langsung
·    Mampu mengubah teks wawancara menjadi narasi
12.2 Menulis pesan singkat sesuai dengan isi de­ngan menggu­nakan kalimat efektif dan ba­hasa yang san­tun
·    Mampu menulis pokok-pokok pesan yang akan ditulis
·    Mampu menulis pesan singkat sesuai dengan konteks
Mendengarkan sastra
13. Memahami pembacaan puisi

13.1 Menang-gapi cara pemba­caan puisi

·    Mampu mengemukakan cara pelafalan, intonasi, ekspresi  pem­baca puisi
·    Mampu memberi tanggapan de­ngan alasan yang logis pemba­ca­an puisi yang didengar/disaksikan
13. 2 Merefleksi isi puisi yang di­bacakan

·    Mampu menangkap isi puisi seperti gambaran pengindraan, perasaan, dan pendapat
·    Mampu mengemukakan pesan- pesan puisi
·    Mampu mengaitkan kehidupan dalam puisi dengan kehidupan nyata siswa
Berbicara sastra
14. Mengungkapkan tanggapan terhadap pembacaan cerpen

14.1 Menanggapi cara pemba­caan cerpen


·    Mampu menangkap isi, pesan, dan suasana cerpen yang dide­ngarkan
·    Mampu mengungkapkan lafal, in­tonasi, dan ekspresi pembaca cer­pen
·    Mampu menanggapi cara pem­ba­caan cerpen
14..2 Menjelaskan hu­bungan la­tar suatu cer­pen  de­ngan realitas sosial
·    Mampu mendata latar cerpen
·    Mampu mengaitkan latar cerpen dengan realitas sosial masa kini
Membaca sastra
15. Memahami wacana sastra melalui kegiatan membaca puisi dan Diktat cerita anak
15.1 Membaca in­dah puisi de­ngan meng­gu­nakan ira­ma, volume suara, mimik, kinestik se­suai denga isi puisi
·    Mampu menandai penjedaan  dalam puisi yang akan dibacakan
·    Mampu membaca indah puisi
15.2 Menemukan realitas kehi­dupan anak yang te­ref­lek­si dalam Diktat cerita anak baik asli mau­pun terje­mah­an
·    Mampu menuliskan perilaku, ke­biasaan yang ada dalam Diktat ce­rita anak
·     Mampu menemukan realitas kehidupan anak yang terefleksi dalam Diktat cerita anak.
Menulis sastra
16. Megungkapkan keindahan alam dan pengalaman melalui kegiatan menulis kreatif puisi
16.1  Menulis kreatif puisi berkena­an dengan ke­indahan alam

·    Mampu menulis larik-larik puisi yang berisi keindahan alam
·    Mampu menulis puisi dengan pilihan kata yang tepat dan rima yang menarik
16.2 Menulis kreatif puisi berke­na­an dengan pe­ristiwa yang pernah dialami

·    Mampu menulis larik-larik puisi tentang peristiwa yang pernah dialami
·    Mampu menulis puisi dengan pi­lihan kata yang tepat dan rima yang menarik

 






BAB  1    MEMAHAMI WACANA LISAN DALAM KEGIATAN WAWANCARA




Indikator Pembelajaran:
1.      Mampu mengidentifikasi pikiran, pendapat, gagasan seorang tokoh/narasumber yang disampaikan dalam wawancara.
2.      Mampu menyimpulkan pikiran, pendapat, gagasan seorang tokoh/narasumber yang disampaikan dalam wawancara.

Materi Pokok : Cara menyimpulkan pikiran, pendapat, dan gagasan seorang tokoh/narasumber yang disampaikan dalam wawancara

1. Hakikat Pikiran, Pendapat, dan Gagasan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pikiran adalah hasil berpikir (memikirkan).
Pendapat adalah buah pemikiran atau perkiraan tentang sesuatu hal (seperti orang, peristiwa). (HOETOMO, 2005)
Ide/gagasan adalah rancangan yang tersusun di pikiran. Artinya sama dengan cita-cita. Gagasan dalam kajian Filsafat Yunani maupun Filsafat Islam menyangkut suatu gambaran imajinal utuh yang melintas cepat.. Selama gagasan belum dituangkan menjadi suatu konsep dengan tulisan maupun gambar yang nyata, maka gagasan masih berada di dalam pikiran. (Anindyarini & Ningsih, 2008)
Gagasan menyebabkan timbulnya konsep, yang merupakan dasar bagi segala macam pengetahuan, baik sains maupun filsafat.
Sekarang banyak orang percaya bahwa gagasan adalah suatu kekayaan intelektual seperti hak cipta atau paten. (Maryati & Sutopo, 2008)
2. Hakikat Narasumber
Narasumber adalah istilah umum yang merujuk kepada seseorang, baik mewakili pribadi maupun suatu lembaga, yang memberikan atau mengetahui secara jelas tentang suatuinformasi, atau menjadi sumber informasi untuk kepentingan pemberitaan di media massa. Biasanya, informasi yang didapat dari narasumber diperoleh melalui wawancara dengan memintakan pendapatnya mengenai suatu masalah atau isu yang sedang berkembang. Selain itu, narasumber juga diperlukan untuk mendukung suatu penelitian. (HOETOMO, 2005)

3. Hakikat Wawancara
Wawancara adalah tanya jawab antara dua orang atau lebih. Kalimat yang digunakan dalam wawancara merupakan kalimat langsung
Wawancara (bahasa Inggris: interview) merupakan percakapan antara dua orang atau lebih dan berlangsung antara narasumber dan pewawancara. Tujuan dari wawancara adalah untuk mendapatkan informasi di mana sang pewawancara melontarkan pertanyaan-pertanyaan untuk dijawab oleh orang yang diwawancarai. (Anindyarini & Ningsih, 2008)
Ankur Garg, seorang psikolog menyatakan bahwa wawancara dapat menjadi alat bantu saat dilakukan oleh pihak yang mempekerjakan seorang calon/ kandidat untuk suatu posisi,  jurnalis,  atau orang biasa yang sedang mencari tahu tentang kepribadian seseorang ataupun mencari informasi. (indonesia, 2016)
Dalam bidang jurnalistik wawancara menjadi salah satu cara mendapatkan informasi  bahan  berita. Wawancara biasanya dilakukan oleh satu atau dua orang wartawan dengan seseorang atau sekelompok orang yang menjadi sumber berita. Lazimnya dilakukan atas permintaan atau keinginan wartawan yang bersangkutan. (indonesia, 2016)
Sedangkan dalam jumpa pers atau konferensi pers, wawancara biasanya dilaksanakan atas kehendak sumber berita. (indonesia, 2016)

4. Bentuk-bentuk Wawancara
1.    Wawancara berita dilakukan untuk mencari bahan berita.
2.    Wawancara dengan pertanyaan yang disiapkan terlebih dahulu.
3.    Wawancara telepon yaitu wawancara yang dilakukan lewat pesawat telepon.
4.    Wawancara pribadi.
5.    Wawancara dengan banyak orang.
6.    Wawancara dadakan / mendesak.
Wawancara kelompok dimana serombongan wartawan mewawancarai seorang, pejabat, seniman, olahragawan dan sebagainya. (indonesia, 2016)

Sukses tidaknya wawancara selain ditentukan oleh sikap wartawan juga ditentukan oleh perilaku, penampilan, dan sikap wartawan. Sikap yang baik biasanya mengundang simpatik dan akan membuat suasana wawancara akan berlangsung akrab alias komunikatif. Wawancara yang komunikatif dan hidup ikut ditentukan oleh penguasaan permasalahan dan informasi seputar materi topik pembicaraan baik oleh nara sumber maupun wartawan. (indonesia, 2016)

5. Jenis-jenis wawancara
Ditinjau dari segi pelaksanaannya, wawancara dibagi menjadi 3 jenis yaitu:
a.    Wawancara bebas
Dalam wawancara bebas, pewawancara bebas menanyakan apa saja kepada responden, namun harus diperhatikan bahwa pertanyaan itu berhubungan dengan data-data yang diinginkan. Jika tidak hati-hati, kadang-kadang arah pertanyaan tidak terkendali.
b.      Wawancara terpimpin
Dalam wawancara terpimpin, pewawancara sudah dibekali dengan daftar pertanyaan yang lengkap dan terinci.
c.         Wawancara bebas terpimpin
Dalam wawancara bebas terpimpin, pewawancara mengombinasikan wawancara bebas dengan wawancara terpimpin, yang dalam pelaksanaannya pewawancara sudah membawa pedoman tentang apa-apa yang ditanyakan secara garis besar. (Sapari, 2008)

6.   Contoh Teks Wawancara
Pantai Tulaun terletak di Desa Lalumpe, Minahasa, Sulawesi Utara. Penduduk desa tersebut mempunyai kebiasaan yang patut diacungi jempol. Mereka bahu-membahu melindungi keberadaan penyu di Pantai Tulaun. Berikut ini wawancara antara wartawan Tempo (Agung Rulianto) dengan Kepala Desa Lalumpe (Danie Kaligis).

Agung Rulianto   : "Bagaimana awal kebiasaan warga desa Anda bermula?"
Danie Kaligis       : "Kegiatan ini berawal dari keprihatinan saya melihat penyu yang bertelur di Pantai Tulaun ditangkap dan dibunuh warga saya. Telur-telur yang tertimbun pasir digali dan dikuras habis."
Agung Rulianto   : "Lalu tindakan apa yang Anda ambil?"
Danie Kaligis       : "Suatu hari saya melihat seorang warga melintas menenteng penyu lekang yang masih hidup. Saya panggil dia dan penyu tersebut saya beli Rp50 ribu. Meski di pasar harga penyu bisa dijual dengan harga lebih mahal, tetapi dia memberikannya juga. Kemudian, penyu itu saya lepaskan ke laut.Sejak saat itu penduduk yang menangkap penyu ramai-ramai menjual tangkapannya kepada saya."
Agung Rulianto   : "Apakah Anda melakukan pembelian itu secara terusmenerus?"
Danie Kaligis       : "Oh ... tidak, waktu itu sembari membeli penyu, saya ditemani Petrus Poli, petugas sebuah lembaga swadaya masyarakat. Saya selalu berkampanye bahwa penyu adalah hewan dilindungi. Mereka yang menangkap bisa dihukum penjara lima tahun."
Agung Rulianto   : "Apa dampak kampanye Anda?"
Danie Kaligis       : "Kampanye itu mengena. Sejak saat itu, setiap kali ada yang menangka penyu, penduduk melaporkan kepada saya Pantai Tulaun pun mulai dijauhi para pemburu penyu."
(Sapari, 2008)
7.   Hakikat Menyimpulkan isi wawancara
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Revisi tahun 2002, menyimpulkan berarti mengikatkan hingga menjadi simpul, mengikhtisarkan (menetapkan,menyarikan pendapat dsb) berdasarkan apa-apa yang diuraikan dalam karangan.

Berdasarkan definisi di atas, menyimpulkan pikiran, pendapat, gagasan narasumber dalam wawancara dapat diartikan sebagai kegiatan menetapkan dan menyarikan pendapat narasumber.
INTERNALISASI
1.   Peserta didik terbiasa melakukan pengamatan terlebih dahulu sebelum melakukan suatu hal
2.   Peserta didik terbiasa melakukan pengkajian ulang terhadap segala sesuaatu yang terjadi atau dilakaukan.

REFLEKSI
1.      Manfaat apakah yang kamu dapatkan setelah mempelajari materi di atas ?
2.      Bagian apakah yang sulit dipaahami dari materi di atas?
3.      Adakah hambatan yang kalian temui dalam mempelajari materi di atas?
4.      Bagian manakah yang kalian paling suka dari materi di atas?

EVALUASI
I.    Pilihlah jawaban a, b, c, atau d yang paling tepat
1. Buah pemikiran atau perkiraan tentang sesuatu hal (seperti orang, peristiwa) disebut...
a. Pikiran           c. Buah pikiran
b. Pendapat        d. Gagasan
2.    rancangan yang tersusun di pikiran disebut juga dengan....
a. Pikiran           c. Buah pikiran
b. Pendapat        d. Gagasan

3.      Seseorang yang memberikan atau mengetahui secara jelas tentang suatuinformasi, atau menjadi sumber informasi untuk kepentingan pemberitaan di media massa dinamakan....
a.       Narasumber                c. Wawancara
b.      Wartawan                   d. Komunikasi
4.      Tanya jawab antara dua orang atau lebih disebut...
a.       Narasumber                c. Wawancara
b.      Wartawan                   d. Komunikasi
5.      Berikut ini merupakan bentuk-bentuk wawancara, kecuali ...
a.       Wawancara pribadi, berita, dadakan, kelompok
b.      Wawancara pribadi, telepon, dadakan, kelompok
c.       Wawancara pribadi, dengan banyak orang, berita, kelompok
d.      Wawancara khusus, berita, dadakan, kelompok
6.      Sukses tidaknya wawancara selain ditentukan oleh sikap wartawan juga ditentukan oleh perilaku, dan....
a.       Penampilan                 c. Jabatan
b.      Kedudukan                d. Pendidikan  
7.      Pewawancara bebas menanyakan apa saja kepada responden, termasuk jenis wawancara....
a. Bebas                                  c. Terpimpin
b. Bebas terpimpin                 d. Terbatas
8.      Pewawancara sudah dibekali dengan daftar pertanyaan yang lengkap dan terinci, termasuk jenis wawancara....
a. Bebas                                  c. Terpimpin
b. Bebas terpimpin                 d. Terbatas

III.    Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini berdasarkan teks wawancara berikut !

Wawancara berikut merupakan kutipan wawancara antara Eliya (wartawan Ummi) dengan Bapak Iskan (tokoh ekonomi) yang membahas tentang "bisnis rumahan".
Eliya             : “Pak Iskan, kita sudah sering mendengar istilah bisnis. Akan tetapi, istilah bisnis rumahan kurang begitu dikenal. Apa sebenarnya itu?”
Bapak Iskan : “Bisnis rumahan adalah bisnis atau usaha yang dijalankan dari rumah. Mungkin sebagian atau semua kegiatan dilakukan di luar rumah, tetap pusat kegiatan dijalankan dari rumah.”
Eliya           : “Dapatkah ibu rumah tangga menjalankan bisnis ini?”
Bapak Iskan : “Bisnis rumah ini sangat cocok dengan ibu rumah tangga. Hal itu disebabkan waktu yang fleksibel. Seorang ibu dapat membagi waktu antara bisnis dengan urusan rumah tangga. Dengan bisnis rumahan ini seorang ibu rumah tangga tetap dapat merawat keluarganya dan mendapatkan penghasilan.”
Eliya            : “Maaf, Pak, akan tetapi dapatkah bisnis rumahan ini menjadi besar, jika    dikerjakan setelah pekerjaan merawat keluarga beres?”
Bapak Iskan : “Kalau bisnis rumahan ini dikerjakan sebagai bisnis sambilan memang mungkin tidak bisa begitu besar. Akan tetapi, jika bisnis rumahan ini dikelola secara serius dan dijadikan bisnis utama, bisnis ini dapat berkembang menjadi sebuah industri yang dapat menghidupi orang banyak. Banyak kisah sukses perusahaan besar bermula dari sebuah bisnis rumahan.”
Eliya            : “Tadi Bapak menyatakan bahwa bisnis rumahan sangat cocok untuk ibu rumah tangga. Mengapa demikian?”
Bapak Iskan : “Bisnis rumahan memang sangat cocok untuk ibu rumah tangga karena dua hal. Pertama, ibu rumah tangga tidak wajib menghidupi keluarga. Oleh karena itu, ia tidak harus memperoleh hasil. (Anindyarini & Ningsih, 2008)

1. Tulislah pendapat, gagasan, dan pikiran narasumber dari wawancara yang telah kalian dengarkan tersebut!
2. Simpulkan pendapat, gagasan, dan pikiran narasumber tersebut menjadi sebuah kesimpulan isi wawancara!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sensasi Puncak Bromo